Spotlight, Kisah Nyata Sekelompok Jurnalis Mengungkap Pelecehan Seksual Anak-Anak Oleh Pastor

background-twitter
Spotlight. (Apple)

The Academy Awards atau Oscars merupakan penghargaan kepada para insan perfilman bergengsi dunia. Biasanya film-film yang masuk dalam nominasi adalah film-film yang memiliki respon sangat positif dari penontonnya. Bagaimana jika film nominasi Oscars juga based on true event?

Film “Spotlight” salah satunya.

 

spotlight-blogbusters-filmdatenbank
Spotlight. (Blogbusters.ch)

Film “Spotlight” dirilis pada 20 November 2015 di Amerika Serikat ini disutradarai oleh Tom McCarthy dan dimainkan oleh beberapa aktor dan aktris ternama Hollywood, yaitu Mark Ruffalo, Michael Keaton, Rachel McAdams, Liev Schreiber, John Slaterry, dan lainnya. Film ini dianugrahi dua piala Oscars (Academy Awards) atas nominasinya sebagai Best Picture dan Best Original Screenplay. Selain Academy Awards, film “Spotlight” juga memenangkan tiga kategori Best Picture, Best Ensemble, dan Best Original Screenplay dalam Critics’ Choice Awards, kemudian dalam Screen Actor Guild Awards dalam kategori Best Ensemble. Tak heran jika “Spotlight” mendapatkan banyak penghargaan dalam Best Original Screenplay. Masih ingat dengan film Disney “Up” yang juga menang dalam Oscars? Tom McCarthy lah yang menjadi penulis naskah kedua film tersebut.

Film “Spotlight” yang ber-genre crime, drama, history ini menceritakan sebuah kisah nyata investigasi yang dilakukan oleh sebuah tim Spotlight dari surat kabar The Boston Globe. Penyelidikan dimulai tahun 2001 atas kasus kejahatan pelecehan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh para pemuka agama Kristen Katolik di wilayah Boston.

Awal mula kasus ini diangkat kembali karena Marty Baron, seorang Editor baru dalam tim The Boston Globe, menanyakan perilah kolom yang dituliskan oleh Eileen McNamara, rekan kerjanya, saat mengadakan rapat redaksi. Salah satu rekan kerja lainnya, memperjelas kolom tersebut mengenai kasus Geoghan, seorang pastur. Marty mempertanyakan kolom tersebut dengan maksud menanyakan kelanjutan kasusnya, karena Geoghan telah mencabuli anak-anak di enam paroki berbeda selama 30 tahun terakhir. Lalu pengacara para korbannya, Garabedian, mengatakan Kardinal Law mengetahui persoalan itu sejak 15 tahun lalu dan membiarkannya. Kemudian Marty mengetahui jika Garabedian memiliki dokumen yang membuktikan Kardinal tahu. Walaupun dokumen tersebut bersifat rahasia, Marty berusaha untuk mengajukan mosi kepada pengadilan untuk membuka dokumen tersebut. Sebelumnya The Boston Globe sudah pernah mengulas dua kasus ini dalam 6 bulan terakhir dengan fakta yang jelas seorang pastur Boston mencabuli kurang lebih 80 anak.

Kemudian cara mereka menggali informasi, mereka mulai dengan menuntut pihak gereja untuk membuka dokumen kasus-kasus pastur tersebut di pengadilan. Di sini Marty Baron masih ingin menginvestigasi lebih lanjut, kebenaran apakah Kardinal Law benar-benar mengetahui hal ini atau tidak. Pada The Boston Globe terdapat dua tim, yaitu The Boston Globe dan Spotlight. Marty meminta tim Spotlight untuk menyelidiki kasus Geoghan. Walter ‘Robby’ Robinson, ketua tim Spotlight, meminta untuk salah seorang kru nya mewawancarai kembali Mitch Garabedian, pengacara dari Kardinal Law. Meski Sacha Pfeiffer pernah mewawancarai sebelumnya, yang menyanggupi untuk melakukan wawancara adalah Michael Rezendes. Selain mewawancarai Mitch Garabedian, Robby meminta kru nya juga mewawancarai pengacara para korban dalam kasus Porter, Eric Macleish. Kasus Porter sama dengan kasus Geoghan, pastur yang mencabuli belasan anak kecil di Fall River 10 tahun silam. Catatan dari Robby dalam investigasi ini, Kardinal Law tidak boleh mengetahui hal ini sebelum tim Spotlight mendapatkan buktinya.

Tim Spotlight mulai mencari berkas lama atas kasus yang terkait dengan pencabulan anak oleh pastur di The Boston Globe. Marty mulai merencanakan pengajuan mosi atas dokumen yang dirahasiakan oleh Gereja Katolik Boston untuk mengungkap kasus Geoghan. Meski banyak pihak yang kaget atas keputusan Marty menuntut pihak Gereja, karena 53% pembaca The Boston Globe penganut Katolik, namun Marty yakin atas tindakannya akan sangat berguna.

Michael kemudian bertemu dengan Garabedian untuk pertama kalinya dan juga Robby bersama dengan Sacha bertemu dengan Eric. Robby dan Sacha mulai menggali data mengenai Kardinal Law dan mendapat angka 80 penggugat yang semuanya merupakan gugatan individual. Eric juga menegaskan bahwa kasus ini termasuk rumit karena korban masih anak-anak dan kubu Gereja memiliki sistem yang kuat. Lalu, Michael membahas kolom Eileen McNamara tentang gugatan Garabedian, yaitu terdapat 84 gugatan. Sayangnya, Garabedian sangat sulit untuk dimintai keterangan lebih lanjut mengenai dokumen Gereja dan Michael meminta setidaknya untuk dapat berbicara dengan klien Garabedian, korban dari kasus itu.

Dokumen lama berupa berita yang menyangkut kasus pelecehan anak terhadap pastur mulai dikumpulkan untuk diidentifikasi oleh tim Spotlight. Ditemukan lah beberapa nama awal yang terkait dengan kasus serupa, yaitu Phil Saviano, korban dari anggota organisasi SNAP (Survivor Network of those Abused by Priest atau Jaringan Korban Selamat dari Pelecehan Pastur), Pastur lain yaitu Liam Barrett dari Philadelphia yang pindah ke Boston, melakukan hal yang sama dengan Pastur Geoghan. Kemudian ada Jim Sullivan, seorang pengacara Keuskupan Agung.

Marty Baron akhirnya bertemu dengan Kardinal Law dan Phil Saviano datang ke kantor The Boston Globe untuk bertemu dengan tim Spotlight, kemudian dilakukan wawancara. Dalam keanggotaan SNAP terdapat 10 orang pada pertemuan terakhir yang berisikan korban yang selamat dari pencabulan pastur, laki-laki maupun perempuan. Phil lalu menunjukkan foto dirinya saat berusia 11 tahun dan menjelaskan kronologi saat dirinya menjadi korban dari Pastur David Holley di Worcester. Phil memberikan beberapa kasus dalam buku Jason Berry, yaitu kasus Gauthe di Louisiana dan meminta tim untuk mengubungi juga Richard Sipe, pekerja di salah satu pusat rehabilitas Gereja dan mantan pastur. Berkas lainnya juga diberikan berupa kesaksiannya dalam kasus Kos. Robby meminta Sacha untuk menyelidiki latar belakang dari Jim dan Michael juga mencari tahu Pastor Richard Sipe.

Akhirnya Michael dapat meyakinkan Garabedian untuk memberikan izin bertemu dengan korban, yaitu Patrick. Patrick kemudian menceritakan semua saat dia pertama kali menjadi korban pencabulan di usia 12 tahun oleh Pastur Geoghan. Sacha bertemu dengan salah satu korban kasus tersebut bernama Joe untuk dimintai keterangan kronologis dirinya saat menjadi korban di Dorchester dan pertama kali berkenalan dengan Pastur Shanley. Dari pertemuannya dengan Joe, Sacha mendapatkan nama Eric Macleish yang batal untuk dijadikan pengacara oleh Joe. Dari situ Sacha mengetahui kalau ternyata Eric menangani banyak kasus seperti ini. Kemudian Sacha kembali ke pengadilan untuk mencari berkas perkaranya dalam melawan Gereja.

Michael lalu mendapat panggilan telepon dari Pastor Richard Sipe dan mendapatkan data berupa latar belakang Pastor Richard selama berada di Lembaga Psikiatri Seton serta penelitiannya mengenai pastor-pastor cabul dan korbannya.

Spotlight-film-2
Spotlight. (thenatterbox)

Matt Caroll, salah satu tim Spotlight meminta bagian arsip untuk memberikan data mengenai pastor yang bertugas di Boston. Ternyata sebagian berada di Gedung Arsip dan di Perpustakaan Umum Boston. Michael, Matt dan Robby mulai mengambil data-data pastor yang ditempatkan di beberapa Gereja di Boston dan menyusunnya dalam susunan tahun. Sacha setelah dari pengadilan tidak menemukan berkas Pastor Shanley dan mulai mencurigai Eric yang terlihat menutupi sebagian berkas kasus itu, karena Eric merasa itu bukan wewenangnya untuk mengemukakan gugatan dari korban kepada orang luar di luar perjanjiannya. Eric hanya mengatakan bahwa berkas yang berada di pengadilan sudah dipindahkan kepada pihak Gereja.

Kembali ke kantor Spotlight, Sacha, Matt, Ben, Robby, Michael dan Robby melakukan rapat kecil perihal data sementara yang mereka dapat. Di sini mereka mulai mendapatkan petunjuk. Eric bagus dalam mengikuti prosedur hukum, namun tindakannya malah tidak menyelesaikan permasalahan pencabulan tersebut. Dugaan awal terdapat 13 pastor yang dianggap terbukti melakukan pencabulan.

Pada malam acara Amal Katolik, Marty dan Robby datang hadir. Robby bertemu dengan Jim Sullivan dan menanyakan jika dia membantu Pastor Liam Barrett sebagai balas budi.

spotlight
Spotlight. (Screenprism)

Matt menemukan keganjalan pada data pastor yang tim kumpulkan. Keganjalan itu adalah banyak pastor yang menggunakan istilah “Cuti Paksa”, “Dibebastugaskan”, “Panggilan Darurat” dan istilah lainnya. Pastor dengan istilah tersebut lebih sering dipindahkan daripada pastor lainnya. Pastor Richard Sipe menelpon dan memberikan keterangan bahwa ada Sumpah Selibat yaitu 50% pastor masih perjaka namun sudah pernah berhubungan badan. Faktanya, hal ini menimbulkan budaya kerahasiaan menolerir bahkan melindungi pelaku pedofil. Pastor Sipe juga mengutarakan adanya jumlah pastor yang melakukan tindakan pencabulan sejumlah 6% dari semua pastor, sekitar 1.500 orang maka 6% nya adalah kurang lebih 90 orang.

Penyelidikan semakin digencarkan karena pada dugaan awal 13 pastor telah melakukan pencabulan, nyatanya kurang lebih 90 pastor melakukan perbuatan tersebut. Setelah melakukan pengecekan lebih detail, mendapatkan angka 87 pastor di Boston yang positif dicurigai.

Sacha dan Robby kembali menemui Eric untuk mengkonfirmasi jumlah yang mereka temukan dan Eric tetap bungkam. Robby mencoba mengancam Eric dengan pemberitaan mengenai dirinya sebagai pengacara yang memanfaatkan gugatan korbannya demi lahan uang. Eric akhirnya memberikan daftar pastor yang ternyata sudah pernah diberikan kepada The Boston Globe setelah kasus Porter. Kelalaian terjadi dipihak The Boston Globe.

Keesokan harinya Eric mengirimkan surel kepada tim Spotlight berisi daftar gugatan yang dia selesaikan, berjumlah 45 pastor. Saat itulah Marty mulai menyusun strategi dalam investigasi yang memfokuskan pada lembaganya, kegiatan dan kebijakannya, tunjukkan bagaimana Gereja memainkan sistemnya dan sistematik. Lalu Robby memberi perintah kepada Sacha untuk membuat daftar korban dengan bantuan Matt.

Sacha mulai mendatangi satu per satu yang dulunya menjadi korban pelecehan oleh pastor. Matthew Walsh, Thomas Kennedy, Pastor Hurley, Pastor Gale, Pastor Ronald Paquin, Pastor Talbot dan beberapa korban serta pastor lainnnya yang didatangi oleh Sacha dan Matt untuk dimintai keterangan. Namun dalam tahap ini mereka mendapat kendala karena banyak korban dan pastor yang sudah pindah, lalu kerabat korban yang keberatan untuk korban dimintai keterangan.

Saat penyelidikan kasus ini berjalan, ditengah penyelidikan terjadi hambatan dalam penyelidikan. Terjadi peristiwa 9/11 yaitu runtuhnya menara WTC yang ditabrak oleh tetoris Islam menggunakan pesawat. Kejadian ini menyita perhatian terlebih dahulu dan menunda tindak lanjut kasus pencabulan anak sementara.

Kendala internal berupa berkas dokumen yang masih belum terlalu lengkap, tim yang bekerja dalam penyelidikan terhambat oleh narasumber dan eksternal berupa korban dan pelaku yang sulit untuk dimintai keterangan serta kejadian lain yang harus The Boston Globe terbitkan terlebih dahulu.

Akhirnya dokumen yang dirahasiakan telah dapat diakses publik. Michael berusaha untuk segera mendapatkan dokumen itu terlebih dahulu sebelum orang lain. Karena dokumen tersebutlah salah satu kunci untuk dapat membongkar jaringan pastor yang terlibat dalam kasus pencabulan anak.

Setelah sekian lama proses penyelidikan, Robby bertemu dengan Jim untuk memastikan daftar yang telah dibuat adalah benar. Jim pun membenarkan bahwa daftar pastor yang terlibat dalam kasus pencabulan anak itu, berjumlah 70 pastor.

Semua bukti yang terkumpul dan terkonfirmasi kebenarannya, akhirnya berita mengenai pencabulan anak oleh pastor diterbitkan oleh The Boston Globe dengan mencantumkan kontak mereka supaya korban lainnya dapat langsung menghubungi kantor untuk menceritakan kejadian yang dialami.

Berita terbit ke seluruh kota. Di sini akhirnya setelah semua itu terkuak oleh media, pihak-pihak yang bersangkutan menghubungi The Boston Globe untuk menyatakan apa yang terjadi selama ini. Dalam sekejap The Boston Globe dibanjiri telepon.

Michael Keaton Liev Schreiber Mark Ruffalo Rachel McAdams John Slattery Brian dÌArcy James
Spotlight. (independen.co.uk)

Dapat disimpulkan dalam film “Spotlight” ini mengangkat tema jurnalistik yang menggambarkan kerja keras seorang jurnalis dalam mengungkapkan kebenaran sebuah berita sesuai dengan fakta dan investigasi yang tidak mudah. Peran The Boston Globe sebagai media juga berpengaruh besar dalam sebuah pemberitaan, berdampak positif kepada para pembacanya, yaitu sebagai pembawa pesan. Akhir dari film ini, terkuah semua jaringan Gereja Katolik yang menutupi kasus pencabulan anak oleh pastor. Ternyata kasus tersebut tidak hanya terjadi di Boston, bahkan seluruh dunia.

 

 

 

 

 

Advertisements

Road Trip, Hiking, Lalu Ngeteh Langsung Di Kebun Teh Karanganyar!

Tepat dua hari sebelumnya, sekitar tanggal 26 Agustus 2014, saya bersama dengan teman SMP saya telah menjelajahi Gembira Loka Zoo Yogyakarta, satu-satunya kebun binatang yang berada di Jateng & DIY.

Malam harinya kami berjalan-jalan di seputar kota Yogyakarta. Akhirnya kami memilih untuk makan malam di salah satu tempat makan ala eropa, yaitu Nanny’s Pavillon, Jogja City Mall. Sekedar bersantai menikmati malam hari dengan berseda gurau mengingat nostalgia semasa SMP.

Keesokan harinya, giliran saya berkunjung ke Solo, karena mereka sekarang ini berdomisili di sana untuk menempuh pendidikan perkuliahan. Sore hari, saya berangkat menggunakan kereta Prameks (Prambanan Ekspress). Dapat dikatakan, tinggal di Yogyakarta itu menyenangkan, karena letaknya yang mudah diakses ke beberapa kota dengan menggunakan banyak alternatif kendaraan, seperti salah satunya kereta. Saya memilih kereta karena harganya yang murah dan cepat. Saya hanya mengeluarkan uang Rp10.000,- untuk membeli tiket kereta Prameks menuju Solo. Selain murah, waktu perjalanan pun singkat, hanya menempuh kurang lebih 50 menit sudah sampai kota Solo. Sesampainya di Solo, kita dapat berhenti di stasiun Solobalapan atau Purwosari.

Sesampainya di sana, saya dijemput oleh teman saya, Adinda. Salah satu teman SMP saya yang bersama dengan saya saat berkunjung ke kebun binatang. Saya dengan Adinda sudah merencanakan untuk menonton film terlebih dahulu di Platinum Cineplex, Hartono Mall Solo. Mengapa kami memilih menonton di sana? Karena pada saat itu Platinum Cineplex masih berlaku promo tiket seharga Rp20.000,- / tiket dan sudah termasuk gratis softdrink. Mungkin karena naluri anak kos, berusaha mencari promo dan meminimalisir pengeluaran. Film yang kami tonton adalah Lucy, salah satu film yang dimainkan oleh Scarlett Johansson.

Setelah dari bioskop, kami makan malam di salah satu kafe dibilangan Pasar Kliwon, Solo, yaitu Warung Orange. Kafe yang mengusung tema campuran Eropa-Timur Tengah ini cukup unik, karena tempatnya yang nyaman, peralatan yang digunakan dan menu yang unik. Itulah mengapa teman saya mengajak saya kemari. Saya memesan Chicken Cordon Bleu dan teman saya memesan Caesar’s Salad, lalu saya memesan minuman yang menggunakan salah satu tabung kimia. Beberapa menit kemudian, teman saya yang lain bernama Ashari datang. Dia salah satu yang ikut pergi ke kebun binatang waktu lalu.

Makan sambil berfoto mengabadikan momen bersama, menghabiskan malam dengan duduk di luar kafe sambil menghabiskan santapan makan malam. Cuaca yang sangat mendukung untuk menikmati malam, melihat kendaraan berlalu-lalang, melihat langit yang cerah berbintang, dan udara yang sejuk. Tak terasa sudah pukul 22:00 WIB, kami harus segera beristirahat karena esok paginya kami akan melakukan perjalanan ke Karanganyar. Saya menginap 2 malam di rumah saudara saya di daerah Manahan.

Pagi datang, matahari belum dengan penuh menampakkan rupanya di atas khatulistiwa dan hawa dingin masih menyelimuti kota. Kurang lebih pukul 05:00 WIB, saya sudah terbangun untuk bersiap-siap mandi, karena pukul 05:30 WIB teman saya satu lagi, bernama Reyhan, masih sama dengan anggota jalan-jalan waktu lalu di Yogyakarta, akan menjemput saya untuk bertemu dengan Adinda dan Ashari di salah satu pasar di Solo, Pasar Triwindu Ngarsopuro. Mereka memutuskan bertemu di sana, karena kami hendak bersarapan soto, yang katanya satu dari sekian soto yang terenak di Solo dan melegenda, Soto Triwindu. Soto ini melegenda di sini, didirikan sejak tahun 1939. Bagi saya, soto di pagi hari cukup untuk mengisi perut yang kosong, terlebih kuah hangat yang cukup untuk menaikan suhu tubuh dari dinginnya suhu di pagi hari, yang lumayan bisa mengembalikan raga ini kembali berselimut di tempat tidur.

Mungkin jika ingin mencoba Soto Triwindu bisa cari di Google, ini salah satu tempat yang bisa saya bilang rekomendasi yang bagus, pagi hari saja sudah ramai orang berdatangan. Tidak sedikit juga komunitas-komunitas yang datang untuk mencoba soto ini. Mengapa menjadi rekomendasi yang bagus? Karena masuk ke dalam Tripadvisor, menurut saya, jika tempat-tempat yang masuk ke dalam Tripadvisor ini, tempat tersebut menjadi yang patut untuk dikunjungi. Soto Triwindu ini juga harganya sepadan dengan rasa, sekitar Rp15.000,- saja cukup untuk mengisi perut. Aneka sate dan gorengan pun tersedia untuk menemani menu utama. Oh iya, sekedar informasi soto ini dibuka dari pukul 05:00 WIB – 15:00 WIB.

Setelah menyantap sarapan dan meminum segelas teh hangat, waktunya kami mulai melakukan perjalan menuju Karanganyar. Sebenarnya, tujuan utama kami untuk berkunjung ke salah satu kebun teh yang ada di sana. Kami memilih kebun teh Karanganyar, karena di sana ada satu rumah teh yang lagi-lagi masuk dalam Tripadvisor. Tapi, saya kemari bukan karena Tripadvisor, melainkan dari teman-teman saya. Rumah teh ini, yaitu Rumah Teh Ndoro Donker. Namanya Ndoro Donker, Ndoro dalam bahasa Jawa artinya Tuan, dan Donker merupakan pemilik asli dari rumah teh tersebut.

Perjalanan cukup panjang, kurang lebih membutuhkan 2 jam perjalanan untuk dapat sampai ke tempat tujuan. Kami menggunakan armada sepeda motor, karena akan tiba lebih cepat dan lebih mudah melewati jalan yang nantinya sulit untuk dilewati kendaraan beroda empat.

Kami memulai perjalanan sekitar pukul 06:30 WIB dari Soto Triwindu. Segala persiapan sudah kami bawa dalam tas, dan tak lupa memakai pakaian hangat, helm kepala, serta masker. Pakaian hangat dibutuhkan karena letaknya di dataran tinggi dengan udara yang dingin-dingin sejuk, saya tidak dapat memperkirakan berapa suhunya, namun airnya sangat dingin seperti air es yang dimasukan dalam lemari es. Jadi suhu dinginnya dapat dibilang hampir sama dengan suhu di Dieng.

Di tengah perjalanan kami mampir ke sebuah minimarket untuk membeli minum dan sedikit makanan ringan dan sekedar meregangkan tubuh. Saya suka jika melakukan perjalanan menggunakan sepeda motor, saya bisa merasakan udara di sekitar saya dan menikmati pemandangan sekitar selama perjalanan. Walau jika terik terasa panas dan basah ketika hujan. Namun, itu terasa menyenangkan.

Kami mulai memasuki wilayah yang kanan kiri terbentang sawah nan hijau dan udara mulai segar. Selama perjalanan tidak ada kendala dan jalanan tidak terlalu padat kendaraan. Karena saya dibonceng oleh Reyhan, jadi saya bisa merekam perjalanan kami. Selama di perjalanan juga Reyhan meminta untuk mengajaknya berbincang, agar dia tidak mengantuk. Begitu juga dengan Adinda dan Ashari yang tepat berada di belakang saya dengan Reyhan.

Satu setengah jam berlalu, kami sudah masuk daerah pegunungan dengan jalan yang menanjak. Posisi kami sudah berada di atas. Sebelah kiri pemandangan sudah berubah menjadi rumah-rumah yang terlihat kecil dan hamparan dedaunan pohon serta petak-petak sawah. Pandangan yang setara dengan mata kami, yaitu dataran tinggi lain yang berada di seberang kami.

Sampai kita di satu gapura, tandanya kami sudah memasuki kawasan pariwisata Karaganyar dan untuk masuk ke dalam kami dikenai tarif kendaraan kalau tidak salah Rp1.000,- untuk sepeda motor. Lalu perjalanan kami berlanjut.

Saya sendiri sangat menikmati perjalanan, karena saya suka dengan hawa dingin pegunungan. Jadi saat masuk ke dalam kawasan pariwisata Karanganyar, perasaan saya sangat senang. Walau memang jauh tetapi rasa lelah di jalan seketika hilang.

Sebelum menuju Rumah Teh Ndoro Donker, kami mampir dulu ke kawasan Pelestarian Alam “Taman Hutan Raya Ngargoyoso.” Tiket masuk ke dalam sebesar Rp5.000,- / orang, sudah termasuk biaya kendaraan, tiket masuk per orang dan asuransi. Nah, di sini suasananya lebih asri lagi, karena isinya pepohonan tinggi, tentu membuat hawa semakin sejuk, segar dan adem. Kawasan ini bisa dibilang kawasan hutan, karena hampir semuanya pohon, baik sisi kanan maupun kiri jalan. Oh iya, di awal saya bilang kalo menggunakan sepeda motor akan lebih mudah untuk jalan, karena jalannya sebagian berupa jalan tanah yang tidak beraspal dan ada beberapa jalan yang lebih mudah dilewati dengan sepeda motor. Alangkah baiknya jika menggunakan sepeda motor, lebih dapat menikmati suasana sekitar.

img_2569

img_2574
Taman Hutan Raya Ngargoyoso atau Tahura KGPAA Mangkunegoro I. (Sumber: dok. Pribadi)

Akhirnya kita sampai pada satu spot dan memarkirkan kendaraan. Suasana di sini begitu tenang, sunyi, sehingga terdengar dengan jelas suara kicauan burung-burung. Tidak terasa panas, karena bayangan dari pepohonan di sini. Cahaya matahari hanya terlihat dari celah-celah pohon. Selanjutnya, kami hiking sedikit naik ke atas. Dataran di sini terdapat puncak di atas, namun karena puncaknya lumayan jauh, jadi kami memutuskan untuk tidak sampai puncaknya. Saat naik ke atas, ada beberapa pos, jadi mungkin di sini memang untuk tempat hiking dan saya setuju jika ini tempat yang enak buat hiking. Jalannya tidak terlalu terjal, enaknya karena tidak terlalu panas karena banyak pohon. Saya lupa di pos berapa, mungkin pos 3 atau 4, lalu hujan tiba-tiba turun. Saya dan teman-teman akhirnya turun kembali ke tempat kendaraan kami berada.

Sebelum lanjut, saya ingin sedikit bercerita mengenai Taman Hutan Raya Ngargoyoso atau Taman Hutan Raya (Tahura) KGPAA Mangkunegoro I. Taman ini terletak di lereng Gunung Lawu, tepatnya di kompleks belakang Candi Sukuh, Desa Berjo, Ngargoyoso Karanganyar. Semua yang ada di Tahura ini difasilitasi dan dikelola oleh Balai Penelitian Tumbuhan dan Pengelolaan (BPTP) Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah. Taman ini menawarkan pesona di lahan seluas 231,3 hektare. Pengunjung dapat memanfaatkan area alami untuk kegiatan perkemahan, wisata jalan kaki, bermain di air terjun Parangijo dan meneliti ragam satwa dan hutan alam. Kalau tidak salah, di area hutan ini terdapat sekitar  42 jenis burung, termasuk elang jawa dan 52 koleksi pohon. Tidak heran jika suasanya begitu alami dan sejuk.

Setelah itu perjalanan kami lanjutkan, kami langsung jalan menuju rumah teh! Dingin-dingin begini, enaknya minum teh, setuju kan?

Kurang lebih sekitar 30 menit dari Tahura KGPAA Mangkunegoro I, akhirnya kita sampai di Rumah Teh Ndoro Donker. Di awal sekilas saya memberi tahu nama Ndoro Donker, nah pemiliknya adalah seorang Belanda, Ndoro Donker atau Tuan Donker. Konon, rumah ini merupakan kediaman beliau. Ndoro Donker dulunya seorang ahli tanaman yang tinggal di sini untuk membangun perkebunan. Kawasan Rumah Teh “Ndoro Donker” juga dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama “Ndonkeran,” karena jasa beliau yang melekat telah memberikan ilmu tentang pertanian kepada mereka.

Suasanya sungguh sangat terasa jadul, karena rumahnya bergaya belanda, bercat putih dan ada aksen-aksen pendukung seperti sepeda onthel. Rumah teh ini dikelilingi oleh perkebunan teh, sehingga menambah nuansa tehnya.

It’s tea time! Sampai juga kami di Rumah Teh Ndoro Donker dan waktunya kami untuk beristirahat, menikmati kehangatan teh dan mengisi perut yang sudah kosong setelah hiking. Begitu sampai, kami memilih tempat duduk di luar, agar lebih terasa suasana di pinggir perkebunan teh. Menu diberikan dan banyak pilihan teh yang tersedia di sini. Karena saya termasuk tea person atau orang yang penyuka teh, berada di sini sungguh sangat membuat saya senang dapat menikmati teh selain teh kemasan yang biasa saya konsumsi.

Teh di sini cukup beragam, seperti Teh Hijau Kemuning, Teh Hitam Donker, Teh Inggris (Earl Grey, Camomile, Lady Grey, Mint dan Passion Fruits), Teh Putih (Premium White Tea), Teh Raja dan Teh Herbal yang disajikan bersama dengan teko dan cangkirnya. Tak hanya teh saja, namun juga ada berbagai cemilan yang cocok jika dinikmati bersama dengan teh, seperti gorengan tempe (mendoan), ketela goreng, ubi goreng, pisang goreng dan lain sebagainya. Harga teh per satu tekonya berkisar antara Rp20.000,00 – Rp45.000,00 dan untuk cemilannya sendiri berkisar antara Rp7.500,00 – Rp15.000,00. Lumayan untuk teh premium yang langsung dipetik dari perkebunan teh di sekitar rumah teh ini.

Saya memesan teh Earl Grey. Teh ini mengeluarkan aroma yang wangi saat diseduh. Gula yang disediakan juga ada dua macam, gula pasir putih dan gula merah. Menggunakan teko transparan sehingga dapat terlihat saat racikan teh bercampur dengan air panas. Air yang awalnya bening, menjadi perlahan kecokelatan dan aromanya mulai tercium wangi yang khas. Lalu, kami memesan pisang goreng dan tempe goreng untuk teman minum teh.

Kami menghabiskan waktu cukup lama di sini karena tempatnya yang nyaman dan udara yang segar nan sejuk. Beristirahat karena sudah melakukan perjalanan yang cukup panjang menggunakan sepeda motor. Meregangkan badan, bersantai, mengabadikan momen dalam kamera ponsel kami masing-masing. Kami juga berjalan sebentar di antara kebun teh.

This slideshow requires JavaScript.

Perjalanan ini merupakan salah satu perjalanan yang cukup berkesan bagi saya, karena selain bersama dengan orang-orang terdekat, tempat yang dituju juga nyaman, udara, suasana dan cuacanya bagus dan mendukung perjalanan. Ini pertama kalinya bagi saya melakukan perjalanan ke sini dan merupakan pengalaman melakukan road trip menggunakan sepeda motor. Seperti pepatah, “The world is a book, and those who do not travel read only a page.” Dunia ini seperti buku, memiliki banyak halaman yang merupakan sebuah cerita yang isinya berisi pengalaman kita terhadap sesuatu, termasuk perjalanan ke suatu tempat. Jika kita tidak berani untuk melakukan perjalanan, maka akan sedikit pengalaman kita dan akan membaca satu halaman saja untuk mengenangnya. Maka dari itu, beranilah untuk menginjakkan kaki ke dunia luar, di luar zona nyaman kalian, untuk mengetahui apa yang ada di sana, karena itu akan menjadi cerita yang berharga untuk orang lain. So, dare yourself to travel, with or without a plan, near or far, but surely it would give your unexpected experiences and memorable moments! Then do it, while you still live your life. (duta)

Lebih Dekat Dengan Satwa di Gembira Loka Zoo!

dsc_0268

Traveling, atau mungkin jalan-jalan lebih sederhananya, karena traveling terdengar seperti sedang berpergian jauh, keluar dari kota di mana kita tinggal. Berbicara mengenai traveling, jika dalam kamus bahasa Inggris memiliki arti “pergi ke tempat yang berbeda bukannya tinggal di satu tempat yang sama.”

Ok, itu hanya sekilas.

Dapat dibilang, saya bukan termasuk tipe orang yang suka melakukan perjalanan. Namun selalu ada keinginan untuk berkunjung ke tempat yang jarang saya singgahi.

Saya sebutkan salah satu tempat yang selalu saya ingin kunjungi, Kebun Binatang. Siapa yang tidak suka pergi ke kebun binatang untuk melihat satwa-satwa liar yang tidak bisa kita lihat di sekitar kita? Karena saya menyukai binatang, tanpa pikir panjang saya ajak beberapa teman SMP saya untuk pergi ke sana. Daripada ke café, tempat makan, atau mall terus-menerus. Saat itu saya masih berkuliah di kota Pelajar, Yogyakarta, tepatnya tahun 2014 lalu.

Permasalahan pertama kami adalah, dapatkah kami semua bangun lebih pagi dari biasanya? Pukul 09:00 kami harus sudah berkumpul dan mulai melakukan perjalan ke kebun binatang.

Perjalanan dimulai. Kami menggunakan motor sebagai alat transportasi, supaya lebih cepat. Cuaca pada saat itu berawan dengan sedikit angin. Tidak terlalu kencang, namun cukup untuk membuat tubuh tidak berkeringat. Rute perjalanan dari daerah Universitas Gadjah Mada, Sleman, menuju Kebun Binatang Gembira Loka, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, hanya menghabiskan kurang lebih 20 menit untuk sampai ke sana.

2
Peta rute menuju Kebun Binatang Gembira Loka. (dok. pribadi)

Akhirnya kami sampai di tempat tujuan, memarkirkan motor, kemudian mengantri untuk membeli tiket masuk. Jangan khawatir dengan harga tiket, cukup membayar Rp20.000,- kalian sudah dapat mengakses seluruh kebun binatang, kecuali makan ya. Selain diberi tiket, kita juga akan diberikan peta kebun binatang. Tujuannya agak kita tidak tersesat, walau memang di sana terdapat papan petunjuk. Namun, sekarang kalian dapat mengunduh peta melalui website Kebun Binatang Gembira Loka. Semakin mudah bukan!

4
Tiket masuk kebun binatang. (dok. pribadi)

Singkat cerita, pada dahulu kala, kebun binatang ini merupakan keinginan dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII di tahun 1933, beliau menginginkan tempat hiburan yang pada awalnya bernama Kebun Rojo. Dan dapat direalisasikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan bantuan Ir. Karsten, seorang arsitek berkebangsaan Belanda.

503197295_4e7f5e8eaa
Foto Kebun Binatang pada zaman dulu. (sumber: flickr)

Matahari mulai memunculkan seringainya. Awalnya berawan, menjadi sedikit memanas, tetapi itu bukan halangan bagi kami untuk tetap menjelajahi satu demi satu satwa yang ada di dalam sini.

First stop kami adalah museum. Museum ini berisi serangga, tanaman, jamu dan lain sebagainya. Sesi foto pun dimulai, dari foto obyek museum hingga foto ala-ala.

img_2074
Teman saya, Adin berfoto bersama kumpulan kecoak. (dok. pribadi)

Tak lama kami lanjut mengelilingi kebun binatang, melihat orangutan, kuda nil, buaya, kura-kura besar, dan kanguru. Meski kanguru di sana tidak sebesar apa yang ada di film The Kangroo Jack. Bagi saya sangat disayangkan, setiap kandang satwa, kurang seperti alam aslinya dan masih berlapis semen.

dsc_0313
Kanguru yang sedang mencari makanan. (dok. pribadi)
dsc_0321
Kuda nil yang sedang menguap. (dok. pribadi)

Lalu, kami mampir ke sudut binatang amfibi dan macam-macam ular.

page2
Koleksi binatang amfibi. (dok. pribadi)
page1
Koleksi ular. (dok. pribadi)

 

Dari sekian satwa yang ada, Bird Park merupakan salah satu yang menarik. Berbagai macam burung tersedia di sini. Ada 9 area di dalamnya, yang pertama Dome, kubah yang berisi berbagai macam burung kecil hingga besar. Kubah ini dapat kita masuki dan melihat secara dekat burung dengan berbagai ukuran dan warna. Apakah burung-burung ini berterbangan bebas di dalam kubah? Inilah yang menarik dari area Dome, burung-burung ini terbang secara bebas di atas kepala kita, namun tidak semua burung yang terbang bebas, sebagian dikandangkan.

dsc_0346
Bird Park Gembira Loka Zoo. (dok. pribadi)
page3
Koleksi burung di area Dome. (dok. pribadi)
dsc_0396
Di sini, khususnya area Dome, burung dibebaskan berkeliaran, sehingga kita bisa berinteraksi langsung. (dok. pribadi)

Selain mata kita yang dimanjakan dengan warna-warni dari bulu burung, kicauan mereka seolah membius. Coba anda pejamkan mata sejenak, berdiam diri, rasakan dan bayangkan jika anda berada di alam liar dikelilingi burung-burung berterbangan, anda akan lupa jika anda sebenarnya berada dalam kubah kandang burung. Suara kicauan dan kepakan sayap, lalu suara deras dari air terjun buatan, sungguh menenangkan. Terlebih cuaca yang kembali sayu, hawa dingin membuat lebih damai. Selain itu juga, saya merasa seperti menonton film animasi Rio secara nyata.

Kemudian area flamingo, paruh bengkok, cendrawasih, kolam terbuka, dan kandang pecuk hitam. Selain Dome, di mana kita dapat secara langsung berinteraksi dengan burung-burung di dalamnya, ada juga Lory Kingdom atau Kerajaan Burung Lory, di mana kita melihat berbagai macam burung Lory, seperti blue-streaked, violet-necked, dan rainbow.

Area burung Elang juga tak kalah menarik. Kapan lagi kita dapat melihat secara dekat burung Elang yang gagah, saat mereka mengepakkan sayap dan terbang.

This slideshow requires JavaScript.

Perjalanan belum berakhir, masih ada dua spot terakhir yang saya kunjungi. Pasti kalian familiar dengan pensil warna Faber-Castell, ingat dengan gambar burung kakak tua yang ada disampulnya? Nah, di area interaksi ini, saya dan teman-teman saya mencoba untuk berfoto bersama dengan burung-burung yang sudah terlatih agar dapat berinteraksi dengan manusia. Salah satunya burung kakak tua. Gratis kok!

This slideshow requires JavaScript.

Tidak hanya di kutub utara dan film-film animasi saja yang ada pinguin, di Jogja juga ada. Kebun Binatang Gembira Loka ini baru saja membuka koleksi baru, yaitu pinguin. Bekerja sama dengan Singapore Zoo untuk mendatangkan Pinguin Afrika atau Jackass Penguin. Namun, sayangnya saya tidak banyak memfoto pinguin.

Tak terasa kami menghabiskan berjam-jam di dalam kebun binatang. Di dalam kebun binatang juga tersedia banyak fasilitas, seperti akses wi-fi, foodcourt, kursi roda, kereta, lalu rekreasi lain seperti gajah dan unta tunggang, ATV, perahu kayuh, banana boat orca, bumper boat, dan masih banyak lagi. Setelah berkeliling melihat banyak satwa yang hanya ada di alam liar, akhirnya kami menyudahi perjalanan di kebun binatang. Sungguh menyenangkan dapat melihat secara langsung satwa liar, berinteraksi, memberi makan mereka, berfoto bersama, yang mana rasa lelah berjalan terbayar dengan rasa puas.

Putri Melati, Bisnis Tanah Liat Berkeuntungan Miliaran

“Total keuntungan dari rekening yang aku cetak karena waktu itu ada keperluan, dan karyawan bank nya juga kaget apalagi aku tambah kaget karena total keuntungan aku itu udah mencapai 1,8 M dari aku pertama kali buat kantor sekitar 2 tahun yang lalu,” ujar Putri Melati (21) pemilik gerai online Sisterclay.

s__4603925
Putri Melati, pemilik Sisterclay. (sumber: dok. Putri Melati)

Putri, gadis belia yang selalu ingat kala dia baru memulai bisnisnya di tahun 2011 lalu, tak lama setelahnya, dia membangun kantor di tahun 2014. Dia kaget dengan keuntungan yang dia hasilkan sudah mencapai miliaran rupiah, dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

biodata-pucen

Siapa sangka pada awal modal nol rupiah, hanya berbahan baku tepung dan lem memiliki nilai jual, yang jika ditotal mencapai milyaran rupiah. Putri Melati Kusumaningrum, lebih akrab dipanggil Pucen, sekarang dia masih berkuliah semester 5 jurusan Bahasa Prancis, UGM, Yogyakarta. Dalam kesibukan kuliahnya, dia masih sempat mengatur bisnis clay miliknya bernama Sisterclay. Clay adalah sejenis lempung atau tanah liat yang dia buat menjadi berbagai macam bentuk.

Rumah sekaligus tempat bisnis Putri yang berada di Jalan Ring Road Utara nomor 34, Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta, ini menjadi saksi bisu awal kesuksesannya yang berawal dari hobi, kemudian menjadi sumber penghasilan utama.

“Karena aku awalnya emang cuma hobi bikin kerajinan tangan, dari kertas, tali, benang dan akhirnya aku ketemu sama clay. Dan aku ternyata cocok sama clay ini,” singkat Putri mengenai hobinya.

Meski hanya sekedar hobi, dia tetap terus menekuni apa yang menjadi kesukaannya terhadap kerajinan tangan. Hingga akhirnya setelah cocok dengan clay, Putri mulai mencoba peruntungannya dalam berbisnis.

“Semenjak aku kelas 3 SMP tahun 2011, modal awal bisa dibilang nol, soalnya bahan utama clay itu sebenernya cuma tepung sama lem aja, kebetulan tepung sama lem di rumah udah ada jadi aku tinggal bikin,”  kata Putri.

Dalam bentuk gantungan kunci yang dijual seharga Rp25.000,-, Putri menjualnya dari mulut ke mulut ke teman SMP nya di SMP Negeri 215 Jakarta Barat dan merambah ke sekolah lain. Kemudian beralih menggunakan sosial media, yaitu awalnya BBM. Seiring berjalannya waktu, Putri mencoba untuk memperluas jaringannya dengan melakukan promosi melalui Twitter dan Facebook.

Namun saat puncak semangat Putri berbisnis, ada saja yang datang menghampiri, “Aku sempet kok diketawain karena aku waktu awal itu, aku cuma jual gantungan kunci dari clay.”

Putri tetap teguh menjalani usahanya tersebut tanpa ragu. Motivasinya dalam berbisnis ini datang dari sosok kakak-kakaknya yang juga sudah membangun perusahaan sendiri. Alasannya, karena dia merasa jika dengan berbisnis, hidupnya menjadi lebih enak.

s__4603920
Produk Sisterclay. (sumber: dok. Putri Melati)

Dapat dibilang langkah yang diambil Putri untuk mencoba berbisnis clay tepat, pasalnya pada saat itu clay belum seperti sekarang. Dan itu menjadikan Sisterclay mulai booming dengan pesat.

Clay itu beneran unik banget dan masih jarang yang bikin, gak kayak sekarang udah banyak bermunculan satu per satu dan desainnya pun niruin Sisterclay itu bikin sakit hati,” begitu penjelasan Putri.

Setelah gantungan kunci, Putri tak puas hanya dengan itu, lalu dia mulai membuat clay dalam frame dan patung clay dalam kaca sewaktu SMA. Sistem penjualannya dengan menggunakan kuota, karena pada saat itu pesanan sudah mulai banyak dan masih mengerjakan semuanya sendiri. Calon pembeli tak lagi hanya antar sekolah dan wilayah Jakarta saja. Lambat laun, berdatangan calon pembeli dari berbagai kota besar di Indonesia, seperti Bandung, Jogja, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya.

“Harganya satu itu Rp180.000,- jadi per bulan mungkin dulu aku udah bisa hasilin sekitar Rp3jt,” ujarnya. Singkat cerita saat itu Putri mulai memberanikan diri untuk memerkerjakan tiga karyawan untuk membantunya dalam proses produksi. Hal itu dilakukan karena jumlah pesanan yang banyak dan terlebih lagi Putri masih memiliki tanggungan kewajiban sekolah.

s__4603918
Suasana kantor Sisterclay yang sekarang. (sumber: dok. Putri Melati)

Setelah lulus dari SMP dan SMA, Putri kembali ke kampung halamannya di Jogjakarta. Di sana dia mulai membuat rumah produksi Sisterclay di rumahnya yang sekaligus menjadi kantor Sisterclay di tahun 2014. Dengan jumlah karyawan sebanyak 4 orang, dua orang untuk pengrajin, satu untuk packing dan satu lagi untuk admin. Saat ini lah Putri mulai menggunakan Instagram untuk media promosi yang dioperasikan oleh admin dan juga Putri sendiri untuk sekaligus memantau feeds.

“Awalnya yang bikin aku rame banget itu sebenernya Instagram, karena waktu itu lagi hits-hits nya jadi di sana gampang banget promosi,” ujarnya, “Aku bangun Instagram dari nol sampe sekarang aku punya lima Instagram yang followers nya lumayan banyak.”

Dalam waktu 6 bulan setelah kantornya jadi, dia sudah bisa membeli sebuah mobil sendiri.

10269546_10201531099398436_5387768384026134437_n
Putri dengan mobil kesayangannya. (sumber: dok. Putri Melati)

“Alhamdulillah bisa beli mobil dengan penghasilan kantor ku yang baru enam bulan itu. Bulan pertama aku merekrut karyawan dan memekerjakan mereka membuat clay untuk pertama kali,” ungkapnya

“Bulan pertama itu aku dapet 70 juta, dan bulan berikutnya gak jauh berbeda, dan aku jadi tergiur buat beli mobil,” ujar Putri yang sekarang berstatus sebagai mahasiswa jurusan Bahasa Prancis, UGM dan jurusan Manajemen di UPN Veteran Yogyakarta.

Kegigihannya mengantarkannya menuju kesuksesan yang akhirnya dapat menembus omzet milyaran dalam kurun waktu 2 tahun, mampu menghidupi kebutuhan pribadi dan ibunya setiap bulan, serta merenovasi rumah. Dan sekarang dia sudah membuat kantor baru yang lebih besar dari kantornya yang lama.

 

Hal ini yang membuat gadis belia ini menjadi seorang pembicara di beberapa seminar di kampus UGM sebagai pengusaha muda yang masih berkuliah. Beberapa di antaranya di Jogja Online Community dan Fakultas Kehutanan UGM.

Terlepas dari semua itu, Putri sempat mengalami masalah dari salah seorang kepercayaannya di dalam kepengurusan Sisterclay.

“Aku dulu sempet ditipu sama karyawan yang bener-bener kepercayaan aku, yaitu admin aku, sekitar 1-2 tahun gitu, dan ternyata dia korupsi lebih dari Rp100juta yang awalnya dia ngakunya gak lebih dari Rp10juta,” tegasnya.

Namun semua itu menjadi pelajaran yang membangun dan berharga bagi gadis belia asal Jogja ini.

Menurutnya untuk menjadi seorang pengusaha itu harus berani mencoba dan menerima segala resiko yang dihadapi. Karena, kunci utama itu adalah pengalaman. Tanpa adanya pengalaman dan hanya berangan-angan saja, kesuksesan akan jauh dari genggaman kita. Dan dari pengalaman itu dapat diwariskan ke anak cucu kelak.

“Terus aku juga percaya kalo hasil itu gak akan mengkhianati prosesnya jadi kalo emang prosesnya udah panjang, jatuh bangun dan kita gak gampang nyerah pasti hasilnya juga bagus, Insya Allah,” tambahnya.