Spotlight, Kisah Nyata Sekelompok Jurnalis Mengungkap Pelecehan Seksual Anak-Anak Oleh Pastor

background-twitter
Spotlight. (Apple)

The Academy Awards atau Oscars merupakan penghargaan kepada para insan perfilman bergengsi dunia. Biasanya film-film yang masuk dalam nominasi adalah film-film yang memiliki respon sangat positif dari penontonnya. Bagaimana jika film nominasi Oscars juga based on true event?

Film “Spotlight” salah satunya.

 

spotlight-blogbusters-filmdatenbank
Spotlight. (Blogbusters.ch)

Film “Spotlight” dirilis pada 20 November 2015 di Amerika Serikat ini disutradarai oleh Tom McCarthy dan dimainkan oleh beberapa aktor dan aktris ternama Hollywood, yaitu Mark Ruffalo, Michael Keaton, Rachel McAdams, Liev Schreiber, John Slaterry, dan lainnya. Film ini dianugrahi dua piala Oscars (Academy Awards) atas nominasinya sebagai Best Picture dan Best Original Screenplay. Selain Academy Awards, film “Spotlight” juga memenangkan tiga kategori Best Picture, Best Ensemble, dan Best Original Screenplay dalam Critics’ Choice Awards, kemudian dalam Screen Actor Guild Awards dalam kategori Best Ensemble. Tak heran jika “Spotlight” mendapatkan banyak penghargaan dalam Best Original Screenplay. Masih ingat dengan film Disney “Up” yang juga menang dalam Oscars? Tom McCarthy lah yang menjadi penulis naskah kedua film tersebut.

Film “Spotlight” yang ber-genre crime, drama, history ini menceritakan sebuah kisah nyata investigasi yang dilakukan oleh sebuah tim Spotlight dari surat kabar The Boston Globe. Penyelidikan dimulai tahun 2001 atas kasus kejahatan pelecehan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh para pemuka agama Kristen Katolik di wilayah Boston.

Awal mula kasus ini diangkat kembali karena Marty Baron, seorang Editor baru dalam tim The Boston Globe, menanyakan perilah kolom yang dituliskan oleh Eileen McNamara, rekan kerjanya, saat mengadakan rapat redaksi. Salah satu rekan kerja lainnya, memperjelas kolom tersebut mengenai kasus Geoghan, seorang pastur. Marty mempertanyakan kolom tersebut dengan maksud menanyakan kelanjutan kasusnya, karena Geoghan telah mencabuli anak-anak di enam paroki berbeda selama 30 tahun terakhir. Lalu pengacara para korbannya, Garabedian, mengatakan Kardinal Law mengetahui persoalan itu sejak 15 tahun lalu dan membiarkannya. Kemudian Marty mengetahui jika Garabedian memiliki dokumen yang membuktikan Kardinal tahu. Walaupun dokumen tersebut bersifat rahasia, Marty berusaha untuk mengajukan mosi kepada pengadilan untuk membuka dokumen tersebut. Sebelumnya The Boston Globe sudah pernah mengulas dua kasus ini dalam 6 bulan terakhir dengan fakta yang jelas seorang pastur Boston mencabuli kurang lebih 80 anak.

Kemudian cara mereka menggali informasi, mereka mulai dengan menuntut pihak gereja untuk membuka dokumen kasus-kasus pastur tersebut di pengadilan. Di sini Marty Baron masih ingin menginvestigasi lebih lanjut, kebenaran apakah Kardinal Law benar-benar mengetahui hal ini atau tidak. Pada The Boston Globe terdapat dua tim, yaitu The Boston Globe dan Spotlight. Marty meminta tim Spotlight untuk menyelidiki kasus Geoghan. Walter ‘Robby’ Robinson, ketua tim Spotlight, meminta untuk salah seorang kru nya mewawancarai kembali Mitch Garabedian, pengacara dari Kardinal Law. Meski Sacha Pfeiffer pernah mewawancarai sebelumnya, yang menyanggupi untuk melakukan wawancara adalah Michael Rezendes. Selain mewawancarai Mitch Garabedian, Robby meminta kru nya juga mewawancarai pengacara para korban dalam kasus Porter, Eric Macleish. Kasus Porter sama dengan kasus Geoghan, pastur yang mencabuli belasan anak kecil di Fall River 10 tahun silam. Catatan dari Robby dalam investigasi ini, Kardinal Law tidak boleh mengetahui hal ini sebelum tim Spotlight mendapatkan buktinya.

Tim Spotlight mulai mencari berkas lama atas kasus yang terkait dengan pencabulan anak oleh pastur di The Boston Globe. Marty mulai merencanakan pengajuan mosi atas dokumen yang dirahasiakan oleh Gereja Katolik Boston untuk mengungkap kasus Geoghan. Meski banyak pihak yang kaget atas keputusan Marty menuntut pihak Gereja, karena 53% pembaca The Boston Globe penganut Katolik, namun Marty yakin atas tindakannya akan sangat berguna.

Michael kemudian bertemu dengan Garabedian untuk pertama kalinya dan juga Robby bersama dengan Sacha bertemu dengan Eric. Robby dan Sacha mulai menggali data mengenai Kardinal Law dan mendapat angka 80 penggugat yang semuanya merupakan gugatan individual. Eric juga menegaskan bahwa kasus ini termasuk rumit karena korban masih anak-anak dan kubu Gereja memiliki sistem yang kuat. Lalu, Michael membahas kolom Eileen McNamara tentang gugatan Garabedian, yaitu terdapat 84 gugatan. Sayangnya, Garabedian sangat sulit untuk dimintai keterangan lebih lanjut mengenai dokumen Gereja dan Michael meminta setidaknya untuk dapat berbicara dengan klien Garabedian, korban dari kasus itu.

Dokumen lama berupa berita yang menyangkut kasus pelecehan anak terhadap pastur mulai dikumpulkan untuk diidentifikasi oleh tim Spotlight. Ditemukan lah beberapa nama awal yang terkait dengan kasus serupa, yaitu Phil Saviano, korban dari anggota organisasi SNAP (Survivor Network of those Abused by Priest atau Jaringan Korban Selamat dari Pelecehan Pastur), Pastur lain yaitu Liam Barrett dari Philadelphia yang pindah ke Boston, melakukan hal yang sama dengan Pastur Geoghan. Kemudian ada Jim Sullivan, seorang pengacara Keuskupan Agung.

Marty Baron akhirnya bertemu dengan Kardinal Law dan Phil Saviano datang ke kantor The Boston Globe untuk bertemu dengan tim Spotlight, kemudian dilakukan wawancara. Dalam keanggotaan SNAP terdapat 10 orang pada pertemuan terakhir yang berisikan korban yang selamat dari pencabulan pastur, laki-laki maupun perempuan. Phil lalu menunjukkan foto dirinya saat berusia 11 tahun dan menjelaskan kronologi saat dirinya menjadi korban dari Pastur David Holley di Worcester. Phil memberikan beberapa kasus dalam buku Jason Berry, yaitu kasus Gauthe di Louisiana dan meminta tim untuk mengubungi juga Richard Sipe, pekerja di salah satu pusat rehabilitas Gereja dan mantan pastur. Berkas lainnya juga diberikan berupa kesaksiannya dalam kasus Kos. Robby meminta Sacha untuk menyelidiki latar belakang dari Jim dan Michael juga mencari tahu Pastor Richard Sipe.

Akhirnya Michael dapat meyakinkan Garabedian untuk memberikan izin bertemu dengan korban, yaitu Patrick. Patrick kemudian menceritakan semua saat dia pertama kali menjadi korban pencabulan di usia 12 tahun oleh Pastur Geoghan. Sacha bertemu dengan salah satu korban kasus tersebut bernama Joe untuk dimintai keterangan kronologis dirinya saat menjadi korban di Dorchester dan pertama kali berkenalan dengan Pastur Shanley. Dari pertemuannya dengan Joe, Sacha mendapatkan nama Eric Macleish yang batal untuk dijadikan pengacara oleh Joe. Dari situ Sacha mengetahui kalau ternyata Eric menangani banyak kasus seperti ini. Kemudian Sacha kembali ke pengadilan untuk mencari berkas perkaranya dalam melawan Gereja.

Michael lalu mendapat panggilan telepon dari Pastor Richard Sipe dan mendapatkan data berupa latar belakang Pastor Richard selama berada di Lembaga Psikiatri Seton serta penelitiannya mengenai pastor-pastor cabul dan korbannya.

Spotlight-film-2
Spotlight. (thenatterbox)

Matt Caroll, salah satu tim Spotlight meminta bagian arsip untuk memberikan data mengenai pastor yang bertugas di Boston. Ternyata sebagian berada di Gedung Arsip dan di Perpustakaan Umum Boston. Michael, Matt dan Robby mulai mengambil data-data pastor yang ditempatkan di beberapa Gereja di Boston dan menyusunnya dalam susunan tahun. Sacha setelah dari pengadilan tidak menemukan berkas Pastor Shanley dan mulai mencurigai Eric yang terlihat menutupi sebagian berkas kasus itu, karena Eric merasa itu bukan wewenangnya untuk mengemukakan gugatan dari korban kepada orang luar di luar perjanjiannya. Eric hanya mengatakan bahwa berkas yang berada di pengadilan sudah dipindahkan kepada pihak Gereja.

Kembali ke kantor Spotlight, Sacha, Matt, Ben, Robby, Michael dan Robby melakukan rapat kecil perihal data sementara yang mereka dapat. Di sini mereka mulai mendapatkan petunjuk. Eric bagus dalam mengikuti prosedur hukum, namun tindakannya malah tidak menyelesaikan permasalahan pencabulan tersebut. Dugaan awal terdapat 13 pastor yang dianggap terbukti melakukan pencabulan.

Pada malam acara Amal Katolik, Marty dan Robby datang hadir. Robby bertemu dengan Jim Sullivan dan menanyakan jika dia membantu Pastor Liam Barrett sebagai balas budi.

spotlight
Spotlight. (Screenprism)

Matt menemukan keganjalan pada data pastor yang tim kumpulkan. Keganjalan itu adalah banyak pastor yang menggunakan istilah “Cuti Paksa”, “Dibebastugaskan”, “Panggilan Darurat” dan istilah lainnya. Pastor dengan istilah tersebut lebih sering dipindahkan daripada pastor lainnya. Pastor Richard Sipe menelpon dan memberikan keterangan bahwa ada Sumpah Selibat yaitu 50% pastor masih perjaka namun sudah pernah berhubungan badan. Faktanya, hal ini menimbulkan budaya kerahasiaan menolerir bahkan melindungi pelaku pedofil. Pastor Sipe juga mengutarakan adanya jumlah pastor yang melakukan tindakan pencabulan sejumlah 6% dari semua pastor, sekitar 1.500 orang maka 6% nya adalah kurang lebih 90 orang.

Penyelidikan semakin digencarkan karena pada dugaan awal 13 pastor telah melakukan pencabulan, nyatanya kurang lebih 90 pastor melakukan perbuatan tersebut. Setelah melakukan pengecekan lebih detail, mendapatkan angka 87 pastor di Boston yang positif dicurigai.

Sacha dan Robby kembali menemui Eric untuk mengkonfirmasi jumlah yang mereka temukan dan Eric tetap bungkam. Robby mencoba mengancam Eric dengan pemberitaan mengenai dirinya sebagai pengacara yang memanfaatkan gugatan korbannya demi lahan uang. Eric akhirnya memberikan daftar pastor yang ternyata sudah pernah diberikan kepada The Boston Globe setelah kasus Porter. Kelalaian terjadi dipihak The Boston Globe.

Keesokan harinya Eric mengirimkan surel kepada tim Spotlight berisi daftar gugatan yang dia selesaikan, berjumlah 45 pastor. Saat itulah Marty mulai menyusun strategi dalam investigasi yang memfokuskan pada lembaganya, kegiatan dan kebijakannya, tunjukkan bagaimana Gereja memainkan sistemnya dan sistematik. Lalu Robby memberi perintah kepada Sacha untuk membuat daftar korban dengan bantuan Matt.

Sacha mulai mendatangi satu per satu yang dulunya menjadi korban pelecehan oleh pastor. Matthew Walsh, Thomas Kennedy, Pastor Hurley, Pastor Gale, Pastor Ronald Paquin, Pastor Talbot dan beberapa korban serta pastor lainnnya yang didatangi oleh Sacha dan Matt untuk dimintai keterangan. Namun dalam tahap ini mereka mendapat kendala karena banyak korban dan pastor yang sudah pindah, lalu kerabat korban yang keberatan untuk korban dimintai keterangan.

Saat penyelidikan kasus ini berjalan, ditengah penyelidikan terjadi hambatan dalam penyelidikan. Terjadi peristiwa 9/11 yaitu runtuhnya menara WTC yang ditabrak oleh tetoris Islam menggunakan pesawat. Kejadian ini menyita perhatian terlebih dahulu dan menunda tindak lanjut kasus pencabulan anak sementara.

Kendala internal berupa berkas dokumen yang masih belum terlalu lengkap, tim yang bekerja dalam penyelidikan terhambat oleh narasumber dan eksternal berupa korban dan pelaku yang sulit untuk dimintai keterangan serta kejadian lain yang harus The Boston Globe terbitkan terlebih dahulu.

Akhirnya dokumen yang dirahasiakan telah dapat diakses publik. Michael berusaha untuk segera mendapatkan dokumen itu terlebih dahulu sebelum orang lain. Karena dokumen tersebutlah salah satu kunci untuk dapat membongkar jaringan pastor yang terlibat dalam kasus pencabulan anak.

Setelah sekian lama proses penyelidikan, Robby bertemu dengan Jim untuk memastikan daftar yang telah dibuat adalah benar. Jim pun membenarkan bahwa daftar pastor yang terlibat dalam kasus pencabulan anak itu, berjumlah 70 pastor.

Semua bukti yang terkumpul dan terkonfirmasi kebenarannya, akhirnya berita mengenai pencabulan anak oleh pastor diterbitkan oleh The Boston Globe dengan mencantumkan kontak mereka supaya korban lainnya dapat langsung menghubungi kantor untuk menceritakan kejadian yang dialami.

Berita terbit ke seluruh kota. Di sini akhirnya setelah semua itu terkuak oleh media, pihak-pihak yang bersangkutan menghubungi The Boston Globe untuk menyatakan apa yang terjadi selama ini. Dalam sekejap The Boston Globe dibanjiri telepon.

Michael Keaton Liev Schreiber Mark Ruffalo Rachel McAdams John Slattery Brian dÌArcy James
Spotlight. (independen.co.uk)

Dapat disimpulkan dalam film “Spotlight” ini mengangkat tema jurnalistik yang menggambarkan kerja keras seorang jurnalis dalam mengungkapkan kebenaran sebuah berita sesuai dengan fakta dan investigasi yang tidak mudah. Peran The Boston Globe sebagai media juga berpengaruh besar dalam sebuah pemberitaan, berdampak positif kepada para pembacanya, yaitu sebagai pembawa pesan. Akhir dari film ini, terkuah semua jaringan Gereja Katolik yang menutupi kasus pencabulan anak oleh pastor. Ternyata kasus tersebut tidak hanya terjadi di Boston, bahkan seluruh dunia.

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s