Road Trip, Hiking, Lalu Ngeteh Langsung Di Kebun Teh Karanganyar!

Tepat dua hari sebelumnya, sekitar tanggal 26 Agustus 2014, saya bersama dengan teman SMP saya telah menjelajahi Gembira Loka Zoo Yogyakarta, satu-satunya kebun binatang yang berada di Jateng & DIY.

Malam harinya kami berjalan-jalan di seputar kota Yogyakarta. Akhirnya kami memilih untuk makan malam di salah satu tempat makan ala eropa, yaitu Nanny’s Pavillon, Jogja City Mall. Sekedar bersantai menikmati malam hari dengan berseda gurau mengingat nostalgia semasa SMP.

Keesokan harinya, giliran saya berkunjung ke Solo, karena mereka sekarang ini berdomisili di sana untuk menempuh pendidikan perkuliahan. Sore hari, saya berangkat menggunakan kereta Prameks (Prambanan Ekspress). Dapat dikatakan, tinggal di Yogyakarta itu menyenangkan, karena letaknya yang mudah diakses ke beberapa kota dengan menggunakan banyak alternatif kendaraan, seperti salah satunya kereta. Saya memilih kereta karena harganya yang murah dan cepat. Saya hanya mengeluarkan uang Rp10.000,- untuk membeli tiket kereta Prameks menuju Solo. Selain murah, waktu perjalanan pun singkat, hanya menempuh kurang lebih 50 menit sudah sampai kota Solo. Sesampainya di Solo, kita dapat berhenti di stasiun Solobalapan atau Purwosari.

Sesampainya di sana, saya dijemput oleh teman saya, Adinda. Salah satu teman SMP saya yang bersama dengan saya saat berkunjung ke kebun binatang. Saya dengan Adinda sudah merencanakan untuk menonton film terlebih dahulu di Platinum Cineplex, Hartono Mall Solo. Mengapa kami memilih menonton di sana? Karena pada saat itu Platinum Cineplex masih berlaku promo tiket seharga Rp20.000,- / tiket dan sudah termasuk gratis softdrink. Mungkin karena naluri anak kos, berusaha mencari promo dan meminimalisir pengeluaran. Film yang kami tonton adalah Lucy, salah satu film yang dimainkan oleh Scarlett Johansson.

Setelah dari bioskop, kami makan malam di salah satu kafe dibilangan Pasar Kliwon, Solo, yaitu Warung Orange. Kafe yang mengusung tema campuran Eropa-Timur Tengah ini cukup unik, karena tempatnya yang nyaman, peralatan yang digunakan dan menu yang unik. Itulah mengapa teman saya mengajak saya kemari. Saya memesan Chicken Cordon Bleu dan teman saya memesan Caesar’s Salad, lalu saya memesan minuman yang menggunakan salah satu tabung kimia. Beberapa menit kemudian, teman saya yang lain bernama Ashari datang. Dia salah satu yang ikut pergi ke kebun binatang waktu lalu.

Makan sambil berfoto mengabadikan momen bersama, menghabiskan malam dengan duduk di luar kafe sambil menghabiskan santapan makan malam. Cuaca yang sangat mendukung untuk menikmati malam, melihat kendaraan berlalu-lalang, melihat langit yang cerah berbintang, dan udara yang sejuk. Tak terasa sudah pukul 22:00 WIB, kami harus segera beristirahat karena esok paginya kami akan melakukan perjalanan ke Karanganyar. Saya menginap 2 malam di rumah saudara saya di daerah Manahan.

Pagi datang, matahari belum dengan penuh menampakkan rupanya di atas khatulistiwa dan hawa dingin masih menyelimuti kota. Kurang lebih pukul 05:00 WIB, saya sudah terbangun untuk bersiap-siap mandi, karena pukul 05:30 WIB teman saya satu lagi, bernama Reyhan, masih sama dengan anggota jalan-jalan waktu lalu di Yogyakarta, akan menjemput saya untuk bertemu dengan Adinda dan Ashari di salah satu pasar di Solo, Pasar Triwindu Ngarsopuro. Mereka memutuskan bertemu di sana, karena kami hendak bersarapan soto, yang katanya satu dari sekian soto yang terenak di Solo dan melegenda, Soto Triwindu. Soto ini melegenda di sini, didirikan sejak tahun 1939. Bagi saya, soto di pagi hari cukup untuk mengisi perut yang kosong, terlebih kuah hangat yang cukup untuk menaikan suhu tubuh dari dinginnya suhu di pagi hari, yang lumayan bisa mengembalikan raga ini kembali berselimut di tempat tidur.

Mungkin jika ingin mencoba Soto Triwindu bisa cari di Google, ini salah satu tempat yang bisa saya bilang rekomendasi yang bagus, pagi hari saja sudah ramai orang berdatangan. Tidak sedikit juga komunitas-komunitas yang datang untuk mencoba soto ini. Mengapa menjadi rekomendasi yang bagus? Karena masuk ke dalam Tripadvisor, menurut saya, jika tempat-tempat yang masuk ke dalam Tripadvisor ini, tempat tersebut menjadi yang patut untuk dikunjungi. Soto Triwindu ini juga harganya sepadan dengan rasa, sekitar Rp15.000,- saja cukup untuk mengisi perut. Aneka sate dan gorengan pun tersedia untuk menemani menu utama. Oh iya, sekedar informasi soto ini dibuka dari pukul 05:00 WIB – 15:00 WIB.

Setelah menyantap sarapan dan meminum segelas teh hangat, waktunya kami mulai melakukan perjalan menuju Karanganyar. Sebenarnya, tujuan utama kami untuk berkunjung ke salah satu kebun teh yang ada di sana. Kami memilih kebun teh Karanganyar, karena di sana ada satu rumah teh yang lagi-lagi masuk dalam Tripadvisor. Tapi, saya kemari bukan karena Tripadvisor, melainkan dari teman-teman saya. Rumah teh ini, yaitu Rumah Teh Ndoro Donker. Namanya Ndoro Donker, Ndoro dalam bahasa Jawa artinya Tuan, dan Donker merupakan pemilik asli dari rumah teh tersebut.

Perjalanan cukup panjang, kurang lebih membutuhkan 2 jam perjalanan untuk dapat sampai ke tempat tujuan. Kami menggunakan armada sepeda motor, karena akan tiba lebih cepat dan lebih mudah melewati jalan yang nantinya sulit untuk dilewati kendaraan beroda empat.

Kami memulai perjalanan sekitar pukul 06:30 WIB dari Soto Triwindu. Segala persiapan sudah kami bawa dalam tas, dan tak lupa memakai pakaian hangat, helm kepala, serta masker. Pakaian hangat dibutuhkan karena letaknya di dataran tinggi dengan udara yang dingin-dingin sejuk, saya tidak dapat memperkirakan berapa suhunya, namun airnya sangat dingin seperti air es yang dimasukan dalam lemari es. Jadi suhu dinginnya dapat dibilang hampir sama dengan suhu di Dieng.

Di tengah perjalanan kami mampir ke sebuah minimarket untuk membeli minum dan sedikit makanan ringan dan sekedar meregangkan tubuh. Saya suka jika melakukan perjalanan menggunakan sepeda motor, saya bisa merasakan udara di sekitar saya dan menikmati pemandangan sekitar selama perjalanan. Walau jika terik terasa panas dan basah ketika hujan. Namun, itu terasa menyenangkan.

Kami mulai memasuki wilayah yang kanan kiri terbentang sawah nan hijau dan udara mulai segar. Selama perjalanan tidak ada kendala dan jalanan tidak terlalu padat kendaraan. Karena saya dibonceng oleh Reyhan, jadi saya bisa merekam perjalanan kami. Selama di perjalanan juga Reyhan meminta untuk mengajaknya berbincang, agar dia tidak mengantuk. Begitu juga dengan Adinda dan Ashari yang tepat berada di belakang saya dengan Reyhan.

Satu setengah jam berlalu, kami sudah masuk daerah pegunungan dengan jalan yang menanjak. Posisi kami sudah berada di atas. Sebelah kiri pemandangan sudah berubah menjadi rumah-rumah yang terlihat kecil dan hamparan dedaunan pohon serta petak-petak sawah. Pandangan yang setara dengan mata kami, yaitu dataran tinggi lain yang berada di seberang kami.

Sampai kita di satu gapura, tandanya kami sudah memasuki kawasan pariwisata Karaganyar dan untuk masuk ke dalam kami dikenai tarif kendaraan kalau tidak salah Rp1.000,- untuk sepeda motor. Lalu perjalanan kami berlanjut.

Saya sendiri sangat menikmati perjalanan, karena saya suka dengan hawa dingin pegunungan. Jadi saat masuk ke dalam kawasan pariwisata Karanganyar, perasaan saya sangat senang. Walau memang jauh tetapi rasa lelah di jalan seketika hilang.

Sebelum menuju Rumah Teh Ndoro Donker, kami mampir dulu ke kawasan Pelestarian Alam “Taman Hutan Raya Ngargoyoso.” Tiket masuk ke dalam sebesar Rp5.000,- / orang, sudah termasuk biaya kendaraan, tiket masuk per orang dan asuransi. Nah, di sini suasananya lebih asri lagi, karena isinya pepohonan tinggi, tentu membuat hawa semakin sejuk, segar dan adem. Kawasan ini bisa dibilang kawasan hutan, karena hampir semuanya pohon, baik sisi kanan maupun kiri jalan. Oh iya, di awal saya bilang kalo menggunakan sepeda motor akan lebih mudah untuk jalan, karena jalannya sebagian berupa jalan tanah yang tidak beraspal dan ada beberapa jalan yang lebih mudah dilewati dengan sepeda motor. Alangkah baiknya jika menggunakan sepeda motor, lebih dapat menikmati suasana sekitar.

img_2569

img_2574
Taman Hutan Raya Ngargoyoso atau Tahura KGPAA Mangkunegoro I. (Sumber: dok. Pribadi)

Akhirnya kita sampai pada satu spot dan memarkirkan kendaraan. Suasana di sini begitu tenang, sunyi, sehingga terdengar dengan jelas suara kicauan burung-burung. Tidak terasa panas, karena bayangan dari pepohonan di sini. Cahaya matahari hanya terlihat dari celah-celah pohon. Selanjutnya, kami hiking sedikit naik ke atas. Dataran di sini terdapat puncak di atas, namun karena puncaknya lumayan jauh, jadi kami memutuskan untuk tidak sampai puncaknya. Saat naik ke atas, ada beberapa pos, jadi mungkin di sini memang untuk tempat hiking dan saya setuju jika ini tempat yang enak buat hiking. Jalannya tidak terlalu terjal, enaknya karena tidak terlalu panas karena banyak pohon. Saya lupa di pos berapa, mungkin pos 3 atau 4, lalu hujan tiba-tiba turun. Saya dan teman-teman akhirnya turun kembali ke tempat kendaraan kami berada.

Sebelum lanjut, saya ingin sedikit bercerita mengenai Taman Hutan Raya Ngargoyoso atau Taman Hutan Raya (Tahura) KGPAA Mangkunegoro I. Taman ini terletak di lereng Gunung Lawu, tepatnya di kompleks belakang Candi Sukuh, Desa Berjo, Ngargoyoso Karanganyar. Semua yang ada di Tahura ini difasilitasi dan dikelola oleh Balai Penelitian Tumbuhan dan Pengelolaan (BPTP) Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah. Taman ini menawarkan pesona di lahan seluas 231,3 hektare. Pengunjung dapat memanfaatkan area alami untuk kegiatan perkemahan, wisata jalan kaki, bermain di air terjun Parangijo dan meneliti ragam satwa dan hutan alam. Kalau tidak salah, di area hutan ini terdapat sekitar  42 jenis burung, termasuk elang jawa dan 52 koleksi pohon. Tidak heran jika suasanya begitu alami dan sejuk.

Setelah itu perjalanan kami lanjutkan, kami langsung jalan menuju rumah teh! Dingin-dingin begini, enaknya minum teh, setuju kan?

Kurang lebih sekitar 30 menit dari Tahura KGPAA Mangkunegoro I, akhirnya kita sampai di Rumah Teh Ndoro Donker. Di awal sekilas saya memberi tahu nama Ndoro Donker, nah pemiliknya adalah seorang Belanda, Ndoro Donker atau Tuan Donker. Konon, rumah ini merupakan kediaman beliau. Ndoro Donker dulunya seorang ahli tanaman yang tinggal di sini untuk membangun perkebunan. Kawasan Rumah Teh “Ndoro Donker” juga dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama “Ndonkeran,” karena jasa beliau yang melekat telah memberikan ilmu tentang pertanian kepada mereka.

Suasanya sungguh sangat terasa jadul, karena rumahnya bergaya belanda, bercat putih dan ada aksen-aksen pendukung seperti sepeda onthel. Rumah teh ini dikelilingi oleh perkebunan teh, sehingga menambah nuansa tehnya.

It’s tea time! Sampai juga kami di Rumah Teh Ndoro Donker dan waktunya kami untuk beristirahat, menikmati kehangatan teh dan mengisi perut yang sudah kosong setelah hiking. Begitu sampai, kami memilih tempat duduk di luar, agar lebih terasa suasana di pinggir perkebunan teh. Menu diberikan dan banyak pilihan teh yang tersedia di sini. Karena saya termasuk tea person atau orang yang penyuka teh, berada di sini sungguh sangat membuat saya senang dapat menikmati teh selain teh kemasan yang biasa saya konsumsi.

Teh di sini cukup beragam, seperti Teh Hijau Kemuning, Teh Hitam Donker, Teh Inggris (Earl Grey, Camomile, Lady Grey, Mint dan Passion Fruits), Teh Putih (Premium White Tea), Teh Raja dan Teh Herbal yang disajikan bersama dengan teko dan cangkirnya. Tak hanya teh saja, namun juga ada berbagai cemilan yang cocok jika dinikmati bersama dengan teh, seperti gorengan tempe (mendoan), ketela goreng, ubi goreng, pisang goreng dan lain sebagainya. Harga teh per satu tekonya berkisar antara Rp20.000,00 – Rp45.000,00 dan untuk cemilannya sendiri berkisar antara Rp7.500,00 – Rp15.000,00. Lumayan untuk teh premium yang langsung dipetik dari perkebunan teh di sekitar rumah teh ini.

Saya memesan teh Earl Grey. Teh ini mengeluarkan aroma yang wangi saat diseduh. Gula yang disediakan juga ada dua macam, gula pasir putih dan gula merah. Menggunakan teko transparan sehingga dapat terlihat saat racikan teh bercampur dengan air panas. Air yang awalnya bening, menjadi perlahan kecokelatan dan aromanya mulai tercium wangi yang khas. Lalu, kami memesan pisang goreng dan tempe goreng untuk teman minum teh.

Kami menghabiskan waktu cukup lama di sini karena tempatnya yang nyaman dan udara yang segar nan sejuk. Beristirahat karena sudah melakukan perjalanan yang cukup panjang menggunakan sepeda motor. Meregangkan badan, bersantai, mengabadikan momen dalam kamera ponsel kami masing-masing. Kami juga berjalan sebentar di antara kebun teh.

This slideshow requires JavaScript.

Perjalanan ini merupakan salah satu perjalanan yang cukup berkesan bagi saya, karena selain bersama dengan orang-orang terdekat, tempat yang dituju juga nyaman, udara, suasana dan cuacanya bagus dan mendukung perjalanan. Ini pertama kalinya bagi saya melakukan perjalanan ke sini dan merupakan pengalaman melakukan road trip menggunakan sepeda motor. Seperti pepatah, “The world is a book, and those who do not travel read only a page.” Dunia ini seperti buku, memiliki banyak halaman yang merupakan sebuah cerita yang isinya berisi pengalaman kita terhadap sesuatu, termasuk perjalanan ke suatu tempat. Jika kita tidak berani untuk melakukan perjalanan, maka akan sedikit pengalaman kita dan akan membaca satu halaman saja untuk mengenangnya. Maka dari itu, beranilah untuk menginjakkan kaki ke dunia luar, di luar zona nyaman kalian, untuk mengetahui apa yang ada di sana, karena itu akan menjadi cerita yang berharga untuk orang lain. So, dare yourself to travel, with or without a plan, near or far, but surely it would give your unexpected experiences and memorable moments! Then do it, while you still live your life. (duta)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s